Tampilkan postingan dengan label kisah nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nabi. Tampilkan semua postingan

Keluarga Rasulullah saw (Bagian 2)

Selasa, 25 Desember 2012

takkan hidup tanpa ilmu...

B.      Ibu Susu
Menjadi adat dan kebiasaan orang Arab kala itu, khususnya kaum Quraisy, untuk menyusukan anak-anak mereka kepada orang lain yang memang berprofesi sebagai ibu susu.
Biasanya mereka datang dari kampung. Dan kampung tukang menyusui adalah kampung Bani Sa’ad, daerah Hudaybiah, sekitar 23-25 km dari Masjid   al-Haram.
Ibu susu Rasulullah SAW dalam riwayat 4 orang. Dua diantaranya dapat dipastikan, sedangkan dua lainnya masih diperselisihkan. Mereka adalah :
1.       Tsuwaybah
Tsuwaybah, Ibu Susu Rasulullah SAW yang pertama. Beliau menyusukan Rasulullah SAW beberapa hari saja, antara 5-10 hari. 
Tsuwaybah adalah budaknya Abu Lahab yang kemudian dimerdekakan. Tak lama kemudian, beliau menyusui Rasulullah SAW ketika mengunjungi rumah Aminah dan didapati bahwa Muhammad yang masih bayi, tidak mau disusui ibunya. Dia pun akhirnya mencoba untuk menyusuinya, dan luar biasa, bayi ini pun mau.
Sejak hari itu, sampai kedatangan Halimah al-Sa’diyah, Muhammad SAW disusui oleh Tsuwaybah.
Cerita bahwa Tsuwaybah termasuk ibu susunya dapat dilihat dalam riwayat   berikut :
Ummu Habibah bint Abu Sofyan ra. berkata : Saat Rasulullah SAW menemuiku, aku berkata kepada beliau : "Wahai Rasulullah, apakah engkau berminat terhadap saudara perempuanku, yaitu putri Abu Sofyan?"
Rasulullah SAW balik bertanya : "Maksudmu, apa yang harus aku lakukan?"
Aku menjawab : "Engkau menikahinya."
Rasulullah SAW bertanya : "Apakah kamu menyukai hal itu?"
Aku menjawab : "Aku bukanlah istrimu satu-satunya dan orang yang paling aku senangi untuk sama-sama berbagi kebajikan ini adalah saudaraku."
Rasulullah bersabda : "Saudara perempuanmu itu tidak halal bagiku."
Lalu aku katakan lagi kepada beliau : "Aku dengar engkau melamar Durrah bint Abu Salamah?"
Beliau berkata : "Putri Ummu Salamah?"
Aku menjawab : "Ya."
Beliau bersabda :
Kalau ia bukan anak tiri yang berada dalam asuhanku, maka ia tidak halal bagiku karena ia adalah anak perempuan saudaraku sepersusuan, sebab aku dan bapaknya telah disusui oleh Tsuwaybah. Maka janganlah kamu menawarkan kepadaku putri-putrimu ataupun saudara-saudara perempuanmu.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
[1] Sahih al-Bukhari, hadis no.  4711; Sahih Muslim, hadis no. 2626. Tambahan dalam riwayat al-Bukhari : Urwah berkata : Tsuwaybah adalah maulat (budaknya) Abu Lahab,  Abu Lahab kemudian memerdekakannya, kemudian dia menyusui Nabi SAW.
2.       Seorang ibu dari Bani Sa’ad selain Halimah
3.       Halimah sl-Sa’diyah
Dikisahkan, entah kenapa, di hari pertama usia Muhammad, ibunya Aminah hendak menyusui anak tunggalnya ini, namun anak ini enggan untuk membuka mulutnya.
Aminah yang sedih dengan kematian suaminya, semakin sedih ketika putranya tetap tidak ingin menyusu dari ibunya sendiri di hari kedua.
Di hari ketiga, datanglah Tsuwaybah, pembantu Abu Lahab, dia menawarkan diri untuk menyusui keponakan majikannya ini, ternyata bayi ini mau dan mulai menyusu. Si ibu gembira luar biasa, Tsuwaybah  dulu juga pernah menyusui Hamzah ibn Abdul Mutthalib.
Pada hari ke delapan usia Muhammad, datanglah 10 orang wanita dari Bani Sa’ad ibn Bakr untuk mencari anak-anak susu. Satu dari mereka adalah Halimah yang datang bersama suaminya al-Harits dan putranya yang kecil, Abdullah ibn al-Harits.
Cerita Halimah
Bagaimana Halimah bisa menjadi ibu susu Rasulullah SAW, kisahnya diceritakan sendiri oleh beliau yang ringkasnya sebagai berikut :
[2] Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury, hal. 76 - 79
Suatu kali dia pergi dari negerinya bersama suami dan anaknya yang masih kecil dan disusuinya, bersama beberapa wanita dari Bani Sa’ad. Tujuan mereka adalah mencari anak yang bisa disusui.
Dia berkata, “Itu terjadi pada masa paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa. Aku pergi sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor onta yang sudah tua yang tidak bisa diambil air susunya lagi walau setetes pun. Sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena harus meninabobokan bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak bisa diharapkan. Sekalipun kami masih tetap mengharapkan adanya uluran tangan dan jalan keluar.
Aku pun pergi sambil menunggang keledai betina kami dan hampir tak pernah turun dari punggungnya, sehingga keledai itu pun  semakin lemah kondisinya. Akhirnya kami serombongan tiba di Makkah dan kami langsung mencari bayi-bayi yang bisa kami susui.
Setiap wanita dari rombongan kami yang ditawari Rasulullah SAW pasti menolaknya, setelah tahu bahwa beliau adalah anak yatim. Tidak mengherankan, sebab memang kami mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak kami susui.
Kami semua berkata, “Dia adalah anak yatim.” Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek beliau, karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu.
Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang disusuinya, kecuali aku sendiri.
Tatkala kami sudah siap-siap untuk kembali, aku berkata kepada suamiku, “Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi yang aku susui. Demi Allah, aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.”
Suaminya berkata, “Memang ada baiknya jika engkau melakukan itu, semoga saja Allah mendatangkan barakah bagi kita pada diri anak itu.”
Halimah melanjutkan penuturannya, “Maka aku pun menemui bayi itu (beliau) dan aku siap membawanya. Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena mendapat beban yang lain.
Aku segera kembali menghampiri hewan tungganganku, dan tatkala aku mencoba menyusui, bayi itu mau menyusu sesukanya hingga kenyang.
Anak kandungku sendiri juga bisa menyusu sepuasnya hingga kenyang, setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal sebelum itu kami hampir tidak pernah tidur karena mengurus bayi kami.
Suamiku mengahampiri ontanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami memerahnya. Suamiku bisa minum air susu onta kami, begitu pula aku, hingga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi kami.
“Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah,” kata suamiku pada esok harinya.
“Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu,” kataku.
Halimah melanjutkan penuturannya, “Kemudian kami pun siap-siap pergi dan aku menunggang keledaiku. Semua bawaan kami, juga kunaikkan bersamaku di atas punggungnya.
Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah keledai-keledai mereka (rombongan Bani Sa'ad) tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku. Sehingga rekan-rekanku berkata kepadaku, “Wahai putri Dzu’aib, celaka engkau! Tunggulah kami! Bukankah keledaimu yang pernah engkau bawa bersama kita dulu?”
“Demi Allah, begitulah. Ini adalah keledai yang dulu.” Kataku.
“Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa.” Kata mereka.
Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa’ad, aku tidak pernah melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susunya penuh berisi, sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya.
Sementara setiap orang yang memerah air susu hewannya sama sekali tidak mengeluarkan air susu walau setetes pun dan kelenjar susunya juga kering.
Sehingga mereka berkata garang kepada para penggembalanya, “Celakalah kalian! Lepaskanlah hewan gembalaan kalian, di tempat gembalaannya     putri Abu Dzu’aib.”
Namun domba-domba mereka pulang tetap dalam keadaan lapar dan tak setetes pun mengeluarkan air susu. Sementara domba-dombaku pulang dalam keadaan kenyang dan kelenjar susunya penuh berisi.
Kami senantiasa mendapatkan tambahan barakah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak ini.
Lalu kami menyapihnya. Dia tumbuh dengan baik, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.
Kemudian kami membawanya kepada ibunya, meskipun masih berharap agar anak itu tetap berada di tengah-tengah kami, karena kami bisa merasakan barakahnya. Maka kami menyampaikan niat ini kepada ibunya.
Aku berkata kepadanya, “Andaikan saja engkau sudi membiarkan anak kami ini tetap bersama kami hingga menjadi besar. Sebab aku khawatir dia terserang penyakit yang biasa menjalar di Makkah.”
Kami terus merayu ibunya agar dia merelakan anak itu tinggal bersama kami.
Begitulah Rasulullah SAW tinggal di tengah Bani Sa’ad, hingga tatkala berumur empat atau lima tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas yang bercerita, bahwa :
Rasulullah SAW didatangi Jibril, yang saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya.
Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.”
Lalu Jibril mencucinya di sebuah bejana dari emas, dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata dan memasukkannya ke tempatnya semula.
Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susunya dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!” Mereka pun menemui beliau yang datang dengan wajah pucat. (HR. Muslim) 
Penghormatan Rasulullah SAW
Satu potret penghormatan Rasulullah SAW terhadap ibu susunya terlihat di Ji’ranah sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Amir ibn Watsilah al-Kinani yang berkata : Aku melihat Rasulullah SAW membagi-bagikan daging di Ji’ranah, kala itu usiaku masih kecil, aku membawa tulang-tulang onta, tiba-tiba datang seorang perempuan mendekati Nabi SAW, kemudian baginda menghamparkan sorbannya, dan perempuan itu duduk di atasnya. Akupun bertanya : Siapakah perempuan ini ? Beberapa orang sahabat menjawab : Dia adalah ibu yang menyusuinya dulu. (HR. Abu Dawud)
Penghormatan Khadijah
Ketika Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah, Halimah al-Sa'diyah datang ke Makkah mengucapkan selamat, karena anak susunya telah menikah.
Sebagai penghormatan dan tanda terima kasih, Khadijah yang dikenal kaya dan dermawan memberikan hadiah kepada ibu susu suami yang dicintai dan dikaguminya. Khadijah memberikan hadiah 40 ekor kambing.
4.       Khaulah bint al-Mundzir
Dari keempat nama tadi, yang tidak diperselisihkan para sejarawan Islam adalah Tsuwaybah dan Halimah.
B.      Ibu Asuh
Ummu Aiman Ibu Asuh Rasulullah SAW
Ibu Asuh Rasulullah SAW adalah Ummu Aiman, nama sebenarnya adalah  Barakah bint Tsa’labah ibn ‘Amr ibn Hishn ibn Malik ibn Salamah ibn al-Nu’man al-Habasyiyah. Berasal dari Habasyah.
Dia adalah mawali/budak/pembantu Abdullah ibn Abdul Mutthalib, ayah Rasulullah SAW.
Menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji setelah Rasulullah SAW memerdekakannya. Dari perkawinan ini lahir Aiman.
Dikatakan sebagai ibu asuh karena setelah kepergian Aminah bint Wahb, ibu kandung Rasulullah SAW ketika baginda masih berusia 6 tahun, Ummu Aiman lah yang menjaga dan mengasuhnya serta membantu keperluan seorang anak dari mulai makan, minum, pakaian dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW sering memanggilnya dengan sapaan Ummah (ibu).
Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda : Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibundaku.
Perjuangan Ummu Aiman
Ummu Aiman adalah termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, paling tidak, untuk wanita, beliau masuk setelah Khadijah atau setelah putri-putri Rasulullah SAW atau masuk dalam kategori sepuluh wanita pertama masuk Islam.
Semasa di Makkah, karena termasuk orang biasa, beliau mendapat perlakuan kasar dan buruk dari pemuka Quraisy.
Ketika hijrah diizinkan, beliau termasuk orang yang ikut hijrah ke Habasyah. Kemudian beliau termasuk orang yang kembali ke Makkah bersama rombongan.
Ketika hijrah ke Madinah, beliau termasuk yang berhijrah, bahkan dengan berjalan kaki dan dalam kondisi puasa.
Meski tidak sendiri dan tetap bersama rombongan, beliau tidak menunggang onta apalagi kuda. Jarak 430 km ditempuh dengan berjalan kaki.
Sampai akhirnya, karomah Allah SWT diberikan untuknya. Siang yang panas tetap dilaluinya dengan kesabaran dan ketabahan. Ketika datang waktu berbuka, Ummu Aiman tidak mendapatkan air untuk diminum. Tiba-tiba muncul gumpalan awan yang membentuk seperti ember putih, beliau mengambilnya dan meminum darinya. Setelah minum sampai hilang dahaganya, beliau melanjutkan perjalanannya ke Madinah tanpa pernah merasakan haus kembali. Bahkan sampai akhir hayatnya.
Bahkan, beliau bercerita bahwa suatu ketika beliau sengaja tawaf di siang hari di panas yang terik dengan harapan akan merasa haus, tapi ternyata beliau tidak juga merasa haus.
Cerita Lucu
Ummu Aiman ra. bercerita :
Suatu ketika Rasulullah SAW menginap di rumah. Ketika malam beliau bangun dan buang air di bejana. Tak lama kemudian saya terbangun dan mencari minum karena kehausan, saya mendapatkan air di bejana, dan saya langsung meminumnya.
Esok paginya, Rasulullah SAW berkata kepadaku :"Wahai Ummu Aiman, tolong buangkan air yang ada di bejana."
Saya pun menjawab : "Wahai Rasulullah SAW, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan haq, saya sudah minum air yang ada di dalamnya."
Rasulullah SAW tertawa sampai terlihat giginya lalu bersabda : "Sungguh perutmu tidak akan sakit lagi setelah ini."
Keluarga
Setelah dimerdekakan oleh Rasulullah SAW, Barakah (nama asli Ummu Aiman) menikah dengan ‘Ubayd ibn al-Harits al-Khazraji. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Aiman. Karena itulah beliau dipanggil dengan nama Ummu Aiman.
Aiman sendiri tumbuh menjadi pemuda yang gagah, berjuang bersama Rasulullah SAW sampai akhirnya syahid di perang Hunain.
Ketika Ummu Aiman menjanda, masih lagi di Makkah sebelum hijrah. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya : Barang siapa yang ingin menikahi perempuan ahli surga, maka hendaklah dia menikahi Ummu Aiman.
Mendengar tawaran dan berita baik, Zayd ibn Haritsah langsung menyatakan minatnya dan melamarnya.
Dari perkawinan ini, lahir Usamah ibn Zayd, orang yang dicintai Rasulullah SAW dan anak orang yang dicintai Rasulullah SAW.
Wafat
Ketika Rasulullah SAW meninggal, Abu Bakar mengajak Umar untuk menjenguk Ummu Aiman dengan harapan semoga dapat meringankan kesedihannya. Setelah berjumpa, Ummu Aiman menangis. Abu Bakar berkata : Kenapa kamu menangis, apa yang disiapkan Allah lebih baik untuk Rasulullah SAW.
Ummu Aiman menjawab : Aku bukan tidak tahu hal itu, tetapi aku sedih karena wahyu sudah terputus dari langit.
Terdapat beberapa riwayat tentang tahun wafatnya, ada yang mengatakan 5 bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, ada juga yang mengatakan 6 bulan kemudian.
Dalam kitab Nisa’ Hawl al-Rasul SAW, dipilih pendapat yang mengatakan bahwa beliau meninggal 20 hari setelah terbunuhnya Umar, atau tahun 23 H.
C.      Ibu Angkat
Fatimah bint Asad Ibu Angkat Rasulullah SAW
Dia adalah Fatimah bint Asad ibn Hasyim ibn Abd Manaf.
Beliau adalah istri dari Abu Thalib, paman Rasulullah SAW.
Beliau juga merupakan ibu dari sepupu Rasulullah SAW dari Abu Thalib : Ali, Thalib, ‘Aqil, Ja’far, Ummu Hani, Jumanah dan Raythah.
Beliau lah yang mengasuh secara langsung Rasulullah SAW selama beliau ada di rumah Abu Thalib bersama Ummu Aiman sebagai pembantu mereka.
Fatimah bint Asad baru masuk Islam setelah suaminya Abu Thalib meninggal. Beliau berbai'at dengan Rasulullah SAW dan menjadi muslimah yang baik.
Beliau ikut berhijrah ke Madinah, dan setelah itu ikut berperan dan membantu Rasulullah SAW dalam perjuangannya dan peperangannya.
Selain itu, beliau juga berperan besar dalam mendidik dan membesarkan putra putrinya yang kesemuanya merupakan orang-orang yang sangat berperan dalam perjuangan Rasulullah SAW.
Riwayat
Dari Ibn Abbas : “Ketika Fatimah bint Asad ibn Hasyim, ibunda Ali ibn Abi Thalib meninggal, Rasulullah SAW membuka bajunya dan mengkafani Fatimah bint Asad ibn Hasyim, dan Rasulullah SAW berbaring di liang lahatnya, sesudah pemakaman selesai, para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, Engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan pada orang lain. Beliau menjawab : Aku memakaikannya bajuku supaya beliau memakai pakaian Ahli Surga, dan aku berbaring di liang lahatnya dengan harapan dapat meringankan himpitan kuburnya, beliau termasuk orang yang sangat berjasa kepadaku sesudah Abu Thalib”.
Di riwayat yang lain Rasulullah SAW mendoakannya sesudah berbaring di liang lahadnya, “Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang Maha Hidup dan tidak akan mati, ampunilah Ibuku dan berilah Hujjah baginya, lapangkanlah kuburnya, demi Nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".
Wafat
Beliau meninggal di Madinah.
Ketika meninggal, Rasulullah SAW yang mengkafankannya, bahkan dengan menggunakan bajunya. Beliau juga yang ikut turun ke dalam liang lahat bahkan sempat tiduran di sisinya.
Setelah keluar dari liang lahat, Rasulullah SAW terlihat menangis.
Melihat hal yang diluar kebiasaan itu, Umar bertanya : Wahai Rasulullah, kenapa kamu melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan terhadap orang lain ?
Rasulullah SAW menjawab : "Wahai Umar, perempuan ini di mataku adalah seperti ibu yang melahirkanku. Ketika Abu Thalib mencari nafkah, beliaulah yang menyiapkan makanan dan aku makan bersama mereka".
Ketika para sahabat bertanya hal yang sama, Rasulullah SAW menjawab : "Sesungguhnya, tidak ada orang yang berbuat  lebih baik kepadaku setelah Abu Thalib dari dia. Aku pakaikan bajuku dengan harapan dia dipakaikan baju dari surga, aku tiduran di liang lahatnya dengan harapan dia diringankan dari azab kubur."


READ MORE - Keluarga Rasulullah saw (Bagian 2)

Keluarga Rasulullah saw (Bagian 1)

Senin, 24 Desember 2012

takkan hidup tanpa ilmu...

Ayah dan Ibu Rasulullah saw

A. Pengantar

Nama ayah baginda ialah : Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf  ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma’ad ibn Adnan.
Sedangkan nama ibunya ialah : Aminah bint Wahb ibn Abd Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab.
Nasab kedua orangtua baginda bertemu di salah satu kakek mereka yang bernama Kilab.
B.      Ayah
Ayahanda Rasulullah SAW
Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim adalah putra terkecil pasangan Abdul Mutthalib dengan Fatimah bint  ‘Amr.
Abdullah merupakan putra Abdul Mutthalib yang terbaik, paling disayang dan dikenal sebagai sembelihan (al-Dzabih).
Dijuluki sebagai sembelihan adalah karena Abdul Mutthalib bernazar bahwa jika anak laki-lakinya genap sepuluh maka satu diantaranya akan disembelih. Dan ternyata Allah memberinya sepuluh anak laki-laki.
Maka terjadilah pengundian dan ternyata anak yang harus disembelih itu jatuh ke Abdullah. Abdul Mutthalib ingin melaksanakan nazar ini, dia segera mengambil pisau dan pergi menuju Ka’bah untuk menyembelihnya. Tiba di depan Ka’bah, kaum Quraisy melarangnya, terutama paman-pamannya. Lantas dia bertanya bagaimana saya harus melaksanakan nazar saya? Akhirnya disarankan untuk dibawa ke Arafah, lalu diundi lagi.
Jika diundi yang keluar nama Abdullah, maka Abdul Mutthalib akan bersedekah dengan  10 ekor onta sebagai ganti anaknya dan begitu seterusnya, dan jika yang keluar nama onta, maka dia akan berhenti dan onta sebanyak itu akan disembelih.
Sampai sepuluh kali undian, nama yang keluar adalah Abdullah. Itu berarti sudah 100 onta yang harus dipotong.
Baru pada undian kesebelas, nama yang keluar adalah onta. Walhasil, 100 ekor onta akhirnya dipotong sebagai pengganti jasad atau jiwanya Abdullah.
Kelebihan Abdullah
Dari sisi keturunan, Abdullah adalah putra Abdul Mutthalib, pemuka Quraisy dan orang yang paling dihormati di Makkah.
Dari sisi akhlak, Abdullah merupakan orang yang dikenal sebagai pemuda yang berakhlak mulia. Bahkan, kebiasaan negatif yang banyak dilakukan oleh pemuda Makkah, beliau tidak ikut melakukannya. Termasuk zina. Bahkan beliau bertekad untuk tidak pernah melakukan hubungan badan dengan lawan jenis kecuali dengan istrinya.
Di usianya yang ke-25, beliau dinikahkan dengan Aminah, putri Wahb, seorang pemuka Quraisy. Dengan Aminah inilah Abdullah pertama kali melakukan hubungan biologis.
Dalam beberapa referensi diceritakan bahwa, kedua pasangan ini baru melakukannya sekali, setelah itu, Abdullah sudah diperintahkan oleh orang tuanya pergi ke Syam untuk berdagang.
Wafat
Terdapat beberapa riwayat tentang wafatnya Abdullah.
Pertama dan yang paling populer :
  1. Abdullah meninggal dalam perjalanan kembali ke Makkah, dimakamkan di Abha. Rasulullah SAW masih dalam kandungan ibunya di bulan keenam.
  2. Riwayat kedua, beliau kembali dari berdagang ke Syam.
  3. Ada juga riwayat yang mengatakan beliau baru kembali dari Madinah guna memetik kurma untuk dibawa ke Makkah.Ada juga pendapat yang mengatakan beliau sakit di Madinah, lalu belum lagi sembuh benar beliau pulang ke Makkah dan meninggal, itu terjadi setelah kelahiran Rasulullah SAW  2 bulan.
Ketika wafat usia Abdullah 25 tahun.
Warisan yang ditinggalkan Abdullah adalah : 5 ekor onta, beberapa ekor kambing dan seorang budak perempuan yang bernama Barakah atau yang lebih dikenal dengan Ummu Aiman.
C.      Ibu Kandung
Ibunda Rasulullah SAW
Aminah bint Wahb ibn Abd Manaf ibn Zuhrah ibn Kilab ibn Murrah. 
Lahir di Makkah, sekitar 18 tahun sebelum Rasulullah SAW dilahirkan.  
Ibunya adalah : Barrah bint Abd al-’Uzza ibn Utsman ibn Abd al-Dar, ibn Qushay ibn Kilab, ibn Murrah.
Wanita dengan nasab terbaik yang ada di Quraisy, mempunyai akhlak yang baik dan menjaga kehormatannya dengan baik.Wanita yang Rasulullah SAW banggakan dengan sabdanya :
Sesungguhnya aku adalah anak seorang perempuan dari Quraisy yang
memakan Qadid (dendeng). (HR. Ibn Majah)[1]
Allah terus memindahkan aku dari tulang shulb yang baik, dipindahkan ke rahim yang suci, bersih, terpilih. Tidaklah ia mempunyai dua cabang kecuali aku masuk dalam yang terbaik.
Pernikahannya dengan Abdullah
Di hari-hari pesta pernikahan, di malam pertama pasangan pengantin ini, Aminah bermimpi yang ia ceritakan kepada suaminya Abdullah : Aku melihat cahaya yang memancar dengan lembut sehingga menerangi dunia dan seisinya. Hingga seolah-olah terlihat olehnya megahnya istana Bushra di negeri Syam. Lalu ada suara yang membisik : Kamu sudah mengandung pemimpin umat ini.
Alkisah, Aminah teringat seorang peramal Quraisy yang bernama Sauda’ Bint Zuhrah al-Kilabiyah pernah berkata kepada penduduk Bani Zuhrah bahwa akan lahir dari turunan kalian seorang pengingat atau pemberi peringatan. Para penduduk kala itu meminta peramal ini untuk menunjukkan orang yang akan melahirkan dari rahimnya pemberi peringatan tersebut. Sauda’ sang peramal menunjuk kepada Aminah.
Kejadian serupa menimpa Abdullah yang menjelang malam pertamanya dengan Aminah, datang kepadanya Putri Naufal ibn Asad, saudara perempuan Waraqah ibn Naufal sang pendeta, dia menawarkan diri untuk dinikahi atau disetubuhi pada malam itu juga. Akan tetapi Abdullah yang sudah berjanji akan menjaga keperjakaannya menolak. Esok harinya, ketika Abdullah bertemu dengannya lagi, Abdullah bertanya : Mengapa engkau tidak menawarkan diri kepadaku lagi? wanita itu menjawab : Cahaya yang menemani kamu kemarin sudah tidak ada lagi hari ini, maka saya tidak menginginkanmu lagi.
10 hari pasangan suami istri ini menikmati indahnya rumah tangga, sampai akhirnya Abdullah harus ikut bergabung dengan rombongan pedagang yang akan berangkat ke Syam.
Menunggu Suami
Sebulan setelah kepergian sang suami, Aminah merasa bahwa ia hamil. Kondisi ini semakin menambah kerinduan kepada suami.
Tiba musim pedagang Makkah kembali dari Syam, Aminah yang ditemani oleh pembantunya yang bernama Ummu Aiman, duduk menanti sang suami datang.
Ketika tamu datang, yang muncul adalah ayah dan mertuanya, Wahb dan Abdul Mutthalib. Mereka mengabarkan bahwa Abdullah harus tinggal di Yatsrib, di rumah seorang kerabat, karena sakit yang diderita.
Selang beberapa hari kemudian, utusan dari Yatsrib datang membawa kabar duka, Abdullah meninggal dunia.
Pengantin baru ini sedih luar biasa, kerinduan akan suami sangat terasa. Namun takdir tidak bisa ditolak, ajal tidak bisa ditunda. Kematian akhirnya akan datang kepada siapa saja.
Melahirkan Anak Pertama
Sembilan bulan janin dikandung, tiba harinya, lahirlah bayi yang dinantikan itu. Detik-detik sebelum kelahiran bayi ini, Aminah menyaksikan cahaya menyinari rumahnya.
Bidan yang menangani prosesi kelahiran ini adalah al-Syifa', ibu dari Abdurrahman ibn ‘Auf. Dia bercerita bahwa yang dia lihat pertama kali adalah cahaya yang begitu terang benderang. Tidak ada kesulitan sama sekali dalam proses persalinan ini. Ditemani oleh Ummu Aiman, sang pembantu, al-Syifa' dengan mudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang bidan.
Kegembiraan pun menyelimuti Aminah, bayi yang ditunggu-tunggunya sudah lahir dengan selamat, bahkan penuh dengan keajaiban.
Belum lagi kegembiraan itu sempurna, kesedihan harus datang lagi, sang anak tidak mau disusui. Hari pertama ditolak, hari kedua demikian pula. Ibu muda ini pun bingung, 2 hari bayi ini tidak makan apa-apa, bagaimana jika dia sakit lalu meninggal. Kesedihan dan kekhawatiran seorang ibu pun mulai menyelimuti dirinya.
Ketika keadaannya seperti itu, datanglah Tsuwaybah, budak atau pembantu Abu Lahab, paman si bayi, menawarkan untuk menyusuinya. Dan aneh, bayi ini mau disusui oleh Tsuwaybah. Alhasil, Tsuwaybah menjadi ibu susu bayi ini untuk beberapa hari.
Pendidikan Awal Untuk Sang Putra
Bayi yang baru dilahirkannya, diambil oleh sang kakek, Abdul Mutthalib, dibawa ke Ka’bah, di sanalah ia dinamakan dengan Muhammad.
Tidak lama kemudian, sekitar 8 hari, sebagaimana adat orang Makkah pada waktu itu, mereka menitipkan anak-anaknya kepada ibu-ibu susu. Muhammad pun dititipkan kepada Halimah al-Sa’diyah untuk disusui dan dididik di kampungnya, daerah Bani Sa’ad (sekitar 25 km dari Makkah).
Dua tahun Muhammad dititipkan di Bani Sa’ad, baru kemudian dikembalikan ke pangkuan ibu kandungnya. Akan tetapi dengan bujuk rayu Halimah dan suaminya al-Harits, Muhammad kembali dititipkan kepadanya.
Selang beberapa bulan kemudian, Muhammad dikembalikan lagi kepada ibu kandungnya di Makkah, dan mulai saat itu, Muhammad berada di bawah belai kasih dan didikan Aminah serta bantuan Ummu Aiman sang pembantu.
Dengan penuh kasih sayang dan perhatian, Aminah membesarkan putra tunggalnya Muhammad, hari demi hari, bulan demi bulan.
Wafat
Tiga tahun Aminah mendidik anak tunggalnya dengan suka dan duka. Kelucuan, keceriaan dan ketangkasan Muhammad, mampu untuk menggembirakan hatinya. Namun, kerinduan akan mendiang suami tidak juga bisa terlupakan. Ia memutuskan untuk menziarahi makam sang suami sambil menziarahi kerabat yang ada di kota Yatsrib.
Dengan mengajak serta anak dan pembantunya Ummu Aiman, Aminah mengikut kafilah dagang, berangkat ke Yatsrib. Dalam riwayat, ikut pula mertua beliau Abdul Mutthalib.
Ajal tidak dapat ditolak, malaikat maut tidak pernah kompromi, kematian akan datang kepada setiap manusia pada saat yang sudah ditentukan.
Di tengah perjalanan pulang kembali ke Makkah, tepatnya di kampung Abwa, 210 km dari Madinah arah Makkah, Aminah meninggal dunia dan dimakamkan di sana.
Usia beliau kala itu  sekitar 24 tahun.
Lengkap sudah, Muhammad menjadi yatim piatu. Mulai hari itu, anak kecil ini tidak lagi akan mendengar canda ibu, setelah dia tidak pernah melihat kharisma wajah sang ayah. Muhammad kembali ke Makkah bersama Ummu Aiman, kakeknya Abdul Mutthalib dan rombongan kafilah dagang.



[1] Hadis diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam al-Sunan, hadis no. 3303.

 

 

READ MORE - Keluarga Rasulullah saw (Bagian 1)

NAMA DAN GELAR RASULULLAH SAW

takkan hidup tanpa ilmu...

NAMA DAN GELAR RASULULLAH SAW

 I.          Nama-nama Rasulullah SAW
Selain nama Muhammad, beliau juga dikenal dengan beberapa nama lain :
1.       AHMAD, seperti yang terdapat di al-Qur’an, Injil & Taurat. Ahmad berarti terpuji.
2.       AL-MAHI, berarti yang menghapus, karena Allah SWT menghapus kekafiran melaluinya.
3.       AL-HASYIR, berarti yang mengumpulkan, karena seluruh manusia akan berkumpul di bawah kakinya.
4.       AL-‘AQIB, berarti yang mengakhiri, karena tidak ada lagi Nabi setelahnya.
5.       AL-MUQAFFA, berarti yang dimuliakan.

Riwayat :
Dari Muth’im ra.  Rasulullah SAW bersabda : 
Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (yang menghapus) karena Allah SWT menghapus kekafiran melalui diriku. Aku adalah al-Hasyir (yang mengumpulkan) karena seluruh manusia akan berkumpul setelahku. Aku juga adalah al-'Aqib
(yang mengakhiri) karena tidak ada lagi Nabi setelahku.
(HR. al-Bukhari, Muslim)[1]
Dari Huzaifah ra. bercerita bahwa :
Saya berjumpa dengan Nabi SAW di salah satu jalan di Madinah, baginda lalu berkata : Aku adalah Nabi pembawa rahmat, Aku adalah Nabi pembuka pintu taubat. Aku adalah al-Muqaffa (yang dimuliakan). Dan aku adalah Nabi yang  terlibat dalam perang-perang besar.
(HR. al-Tirmizi)[2]
Nama-nama dalam al-Qur’an
Dalam al-Qur’an, nama Nabi Muhammad SAW disebutkan dengan beberapa nama lain :
1.       Muhammad :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (QS. al-Fath 48:29)

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran 3:144)

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka. (QS. Muhammad 47:2)

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Ahzab 33:40)

2.       Ahmad :

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS. al-Shaf 61:6)

3.       Abdullah :

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. (QS. al-Jin 72:19)

4.       Thaha :
طه . مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى.
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (QS.Thaha 20:1-2)

5.       Yasin :
يس. وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيمِ. إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ.
Yaa siin. Demi al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul,  (QS.Yasin 36:1-3)

Selain nama-nama tersebut, beberapa panggilan yang bermaksudkan Nabi Muhammad SAW, juga digunakan al-Qur’an. Antara lain : Rasul, Nabi, Ummiy, Syahid, Mubasysyir, Nadzir, Da’i ilallah, Siraj Munir, Ra’uf, Rahim, Nadzir Mubin, Mudzakkir, Rahmat, Ni’mah, Hadi,  ‘Abd.



[1] Sahih al-Bukhari, hadis no.  4517; Sahih Muslim, hadis no.  4342.
[2] Syama'il al-Tirmizi, hadis no. 368.
READ MORE - NAMA DAN GELAR RASULULLAH SAW

Kelahiran Rasulullah SAW



takkan hidup tanpa ilmu...


Kelahiran Rasulullah SAW

Beliau lahir pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah.
Dinamakan sebagai tahun Gajah karena di tahun itu menjelang kelahiran Muhammad, terjadi peristiwa besar, yaitu penyerangan pasukan gajah dari negeri Habasyah menuju Makkah.
Pasukan itu dipimpin oleh panglima besar yang bernama Abrahah.
Maksud penyerangan ini adalah untuk menghancurkan Ka’bah.
Sedangkan motifasi penyerangan ini lebih disebabkan rasa iri dan dengki dari sebuah negeri yang maju dan makmur, namun tidak menjadi tujuan perjalanan manusia, terhadap negeri Makkah yang gersang dan tandus, namun selalu dikunjungi orang setiap tahunnya.
Pasukan ini dihancurkan oleh pasukan burung Ababil yang membawa batu kerikil yang panas. Mereka dihadang di wadi Muhassir, wadi yang terletak antara Mina dan Muzdalifah.
Cerita ini diisyaratkan dalam surat al-Fiil (QS : 109).
1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kabah) itu sia-sia?,
3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Dalam kitab al-Khasa’is disebutkan bahwa Ibn Sa’ad, Ibn Abi al-Dunya dan Ibn ‘Asakir meriwayatkan dari Abi Ja’far Muhammad ibn Ali yang berkata bahwa peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Muharram, antara kejadian ini dan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah 55 hari.
Dikisahkan bahwa kejadian penyerangan burung Ababil adalah, ada segumpalan awan yang datang dari arah laut, sampai akhirnya mendekati pasukan gajah ini, ketika burung-burung ini persis di atas pasukan, batu-batu yang dibawa oleh pasukan burung dilontarkan dan menimpa pasukan gajah. Setiap seekor burung, membawa 3 buah batu, dua dikaki dan satu di paruh.
Ada beberapa versi cerita, ada yang mangatakan bahwa mereka yang kena batu ini merasa gatal, dan setiap digaruk, maka kulit dan dagingnya ikut terkelupas. Lalu tewas dengan sendirinya.
Ada juga yang mengatakan bahwa bebatuan yang dilempar ke tentara, jika mengenai kepala maka batu itu keluar dari dubur, jika mengenai badan bagian samping, maka batu itu akan menembus keluar dari bagian lainnya. Begitu seterusnya hingga luka itu membawa kematian yang sangat cepat. Hasilnya, tidak ada satu orang pun dari tentara gajah yang selamat.

 

READ MORE - Kelahiran Rasulullah SAW

Keadaan dunia sebelum kelahiran nabi Muhammad s.a.w

Kamis, 10 Juni 2010

Sempena memperingati tarikh bersejarah dengan kelahiran bayi bertuah yang dibangkit sebagai Rasulullah perubah tamadun manusia yang roboh keinsanan mereka maka kali ini akan dikupas serba sedikit mengenai keadaan kuasa dan empayar yang kukuh pada masa itu iaitu sekitar abad 6 Masihi sebelum lahirnya nabi Muhammad s.a.w. Semoga ia mampu memberi kefahaman dan kesedaran kepada kita bagaimana kelahiran Rasulullah s.a.w tidak dapat dinafikan lagi sebagai perubah dan pembawa rahmat kepada seluruh alam yang hampir hancur sifat kemanusiaannya dan telah tergadai rasa kehambaan kepada Allah Tuhan Pencipta.
Empayar Rumawi Timur
        Kerajaan Rumawi Timur yang dikenali dengan Empayar Byzantine dan bangsa arab menamakannya sebagai al-Rom di mana  pada abad 6 Masihi kuasa ini telah menguasai negeri Yunan (Greek), Balqan, Asia kecil, Syria, Palestin, seluruh laut Mediterranean, Mesir dengan Konstantinople (Istanbul) dijadikan pusat pemerintahan mereka. Empayar mereka bermula pada tahun 395 Masihi lagi sebelum jatuh dan hilang setelah diserang oleh kerajaan Islam Uthmaniah pada 1453 Masihi. Empayar ini pada abad ke 6 M mula mengenakan cukai yang tinggi ke atas rakyat yang menyebabkan timbulnya perasaan benci di kalangan rakyat jelata yang membawa kepada pengharapan mereka agar adanya bangsa asing yang mampu memerintah mereka menggantikan kerajaan yang sedia ada. Berkesinambungan daripada kezaliman dan penindasan yang telah dilakukan telah menimbulkan rusuhan dan pemberontakan yang berlarutan di mana dalam rusuhan pada tahun 533 M sahaja pada masa pemerintahan Justin 1 maka 30 000 jiwa telah terkorban di Konstantinople. Ini disebabkan kerasukan pemerintah yang ingin mendapatkan wang sebanyak mungkin dengan apa cara sekali pun dan kemudiannya dibelanjakan dengan boros, berhibur dan berpoya-poya sehingga kepada peringkat kebinatangan.Rakyat turut terpengaruh dengan aliran batin disamping mereka suka kepada permainan sukan yang merbahaya sehingga menumpahkan darah seperti pertarungan antara manusia atau dengan binatang buas dalam stadium yang dibina khas disamping hukuman terhadap pesalah dengan hukuman yang mengerikan.
        Mesir yang merupakan sebuah wilayah kepada empayar ini menjadi mangsa penindasan yang paling teruk oleh golongan agama, mangsa keganasan oleh golongan politik sehingga memaksa rakyat Mesir berkerja kuat sebagai memenuhi nafsu serakah golongan pemerintah. Mesir yang merupakan sumber besar kepada kekayaan dan kemewahan kerajaan Rom telah dijadikan seumpama kambing susu yang diperah susunya sedangkan makanannya diabaikan.
        Syria sebuah lagi wilayah kuasa ini turut menjadi binatang tunggangan nafsu ganas bangsa Rom sehingga ramai rakyat Syria terpaksa menjual anak bagi menjelaskan hutang malah rampasan serta perhambaan begitu berleluasa.
EMPAYAR IRAN PARSI
        Empayar Iran atau Parsi lebih luas tanah jajahannya dan lebih kaya berbanding dengan Empayar Rumawi Timur yang berpisah daripada Rome asal di Itali. Empayar Parsi ini diasaskan oleh Ardashir pada tahun 244 Masihi di masa pada ia telah mencapai zaman kemuncaknya ia telah menguasai Assyria, Khuzistan, Midya, Persia, Azarbijan, Tabristan, Sarkhas, Juzjan, Karman, Marw, Balkh, Sughd, Sistan, Harat, Khurasan, Khawazazim, Iraq dan Yaman yang sebahagian daripada Jazirah Arab termasuk sebahagian daripada daerah India seperti Kach, Kathiawar dan Malwah. Ia meningkat begitu luas sejak abad ke 4 Masihi di mana pusat pemerintahannya pada masa itu ialah Madain atau Ctephon.
        Agama kuno mereka ialah Zoroaster yang merupakan kepercayaan yang mempercayai Pertarungan antara cahaya(Nur) dengan kegelapan(Zulmah). Kemudian datangnya agama Mani yang merupakan reformis kepada agama kuno tersebut di mana ia mengajak manusia untuk hidup membujang agar dunia cepat fana apabila manusia semakin pupus bertujuan untuk membasmi kejahatan di muka bumi. Pada abad ke 5 Masihi muncul pula seorang yang bernama Mazdak membawa ajaran menghalalkan harta dan wanita dengan bebas kepada semua orang sehingga suasana menjadi bercelaru apabila masing-masing dengan berani menceroboh rumah orang lain dan mencabul wanita sesuka hati. Istana turut diceroboh dan tanah diterokai sesuka hati sehingga ia rosak tidak mengeluarkan hasil. Apa yang ada pada mereka ialah hidup untuk makan dan mencapai kedudukan serta kekayaan.
        Pada abad ke 6 Masihi iaitu pada masa pemerintahan dinasti Sasani keadaan bertambah buruk apabila rakyat bergantung kepada ihsan raja-raja yang menganggap darjat mereka begitu tinggi daripada semua anak Adam sehingga nama mereka dikaitkan dengan perkataan yang membawa erti ketuhanan. Maharaja (Emperor) dianggap sebagai manusia nombor satu di mana dia dipuja begitu tinggi sehingga tidak boleh disebut nama asalnya dalam ucapan atau perbicaraan malah raja dianggap daripada keturunan Tuhan. Semua pendapatan negara merupakan milik raja dan kekayaan ini kekal sehingga Yazdagird Raja Iran terakhir di mana ketika beliau lari meninggalkan Madain iaitu ibukota pemerintahannya pada masa serangan tentera Islam, beliau telah membawa lari seribu tukang masak, seribu penyanyi, seribu pengembala harimau, seribu pengembala binatang lain dan sebagainya.Rakyat begitu terseksa kehidupan mereka dibenani cukai sehingga ramai kaum tani lari menetap dikuil kerana lari daripada cukai dan menjadi tentera kerahan.Ramai rakyat yang terbunuh dalam peperangan antara Parsi dan Rom yang berlanjutan begitu lama.
EMPAYAR INDIA
        India terkenal pada zaman kunonya dalam bidang sains jiwa, falak astronomi, perubatan dan falsafah dan ahli sejarah turut menyatakn bahawa India begitu merosot dari segi agama, akhlak pada permulaan abad ke 6 Masihi.Agama sudah tidak berfungsi lagi yang menyebabkan pencabulan dan penzinaan yang berleluasa dan wanita tiada harga sehingga dijadikan pertaruhan dalam perjudian, si balu tidak boleh berkahwin lagi alah dibakar hidup-hidup sebagai tanda kesetiaan. Sistem kasta begitu menebal dan kuat sehingga wujud penindasan yang kejam. India hidup terpencil daripada dunia luar sehingga pemikiran masyarakatnya menjadi beku.
EROPAH
        Bangsa di Eropah Barat dan Timur berada dalam zaman kegelapan, buta huruf dan saling berperang sehingga tidak pernah bersua dengan peradaban dan pengetahuan, tidak berurusan dengan dunia luar malah dunia luar tidak tahu mengenai hal mereka. Mereka diselubungi oleh dongengan yang mengelirukan dan tidak suka kepada kebersihan dan tidak suka kepada air untuk pembersihan sehingga ada rahib yang keterlaluan menyiksa badan mereka atau lari memencilkan diri daripada manusia. Mereka masih menyelidik tentang apakah wanita itu binatang atau manusia, wanita mempunyai ruh yang kekal atau tidak, wanita mempunyai hak milik, menjual, membeli atau pun tidak.
        Sehubungan dengan ini Robert Briffault berkata : ” Eropah diselubungi dengan kegelapan kejahilan sejak abad ke 5 M hingga 10 M di mana kejahilan itu meningkat kegelapannya pada abad ke 6 M dengan timbulnya keganasan yang amat mengerikan sehingga lebih ganas daripada zaman purba sehingga kawasan yang dahulunya pernah mencapai peradaban paling tinggi seperti Itali dan Perancis turut menjadi mangsa kepada kekacauan dan kejatuhan itu”.
        Kelahiran Rasulullah s.a.w yang disifatkan sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam telah merubah segala-galanya di mana dunia yang dulu sempit dihimpit kezaliman dan penindasan telah bertukar kepada keluasan dan keadilan Islam.Dunia yang dulu tenggelam dek kegelapan dan kepekatan dungu dan kejahilan berubah ke arah sinar cahaya ilmu dan pengetahuan. Dunia yang dulu dipenuhi manusia yang dirasuk nafsu kebinatangan mula kembali lembut dengan nilai kemanusiaan. Agama yang dulu dianggap sebagai adat mula bertukar menjadi dasar kehidupan gemilang.
READ MORE - Keadaan dunia sebelum kelahiran nabi Muhammad s.a.w

ISA DAN AL-FATIHAH

Senin, 07 Juni 2010

ISA DAN AL-FATIHAH – RAHASIA TERSEMBUNYI?

Seberapa pentingkah Al-Fatihah, surah pertama Al-Quran, buat orang Islam? Perhatikanlah hadits berikut:

“Tidak ada (tidak sah) shalat bagi [orang] yang tidak membaca Fatihah al-Kitab.” (HR. Bukhari).

Bershalat tanpa mengucapkan Al-Fatihah sia-sia!!!

Ada 1.4 milyar orang Islam di dunia. Jika Al-Fatihah diucapkan 17 kali per hari pada waktu bershalat oleh setiap orang Muslim berarti Al-Fatihah diucapkan hampir 24 milyar kali setiap hari.

Jika hanya 50 persen orang Islam setia bershalat, itu masih berarti 12 milyar kali.

Al-Fatihah doa terpopuler dalam sejarah dunia, bukan?!!!

Tetapi apakah Al-Fatihah memuat arti rahasia tentang Allah dan kehidupan ini, yaitu arti yang tersembunyi?

Siapakah yang dapat membuka rahasianya?

Al-Quran menekankan bahwa Isa Al-Masih adalah yang terkemuka di bumi dan di akhirat! (Sura Ali ‘Imran 3:45)

Al-Quran menekankan bahwa Isa Al-Masih benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Artinya Isa Al-Masih mempunyai pengetahuan yang melebihi manusia biasa. (Sura As-Zukhruf 43:61)

Kitab Injil mendukung dengan menekankan bahwa Isa Al-Masih adalah “hikmat Allah.” (Surat I Korintus 1:24)

Apakah rahasia Al-Fatihah yang tersembunyi dapat dibuka dalam terang Isa Al-Masih, hikmat Allah?

Staff Isa dan Islam menyediakan lebih dari seratus renungan singkat (kira-kira 175 kata masing-masing panjangnya). Dengan mengisi formulir di bawah ini dengan nama dan email, renungan-renungan singkat yang sangat bermakna ini akan dikirim kepada saudara, satu renungan setiap minggu!!

Walaupun Al-Fatihah diucapkan dalam bahasa Arab, tapi dalam renungan ini hanya menggunakan bahasa Indonesia!

Apakah pantas mengucapkan satu doa berulang kali hari demi hari tanpa tahu artinya secara dalam? Karangan pendek yang akan Saudara terima akan menolong Saudara mendoakan Al-Fatihah dengan makrifat.

Orang Kristen juga perlu tahu isi Al-Fatihah karena surah ini memainkan peranan inti dalam akidah Islam. Saudara perlu mengerti doa mulia ini yang dijunjung tinggi oleh saudara-saudara sebangsa!!!

Al-Fatihah yang berarti “Pembuka” begitu dicintai oleh orang Islam sehingga diberi banyak nama sbb:



Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur'an (Induk Al-Qur'an), As-Sabu'ul Matsani (Tujuh yang Diulang), Ash-Shalah (Shalat), al-Hamd (Pujian), Al-Wafiyah (Yang Sempurna), al-Kanz (Simpanan Yang Tebal), asy-Syafiyah (Yang Menyembuhkan), Asy-Syifa (Obat), al-Kafiyah (Yang Mencukupi), al-Asas (Pokok), al-Ruqyah (Mantra), asy-Syukru (Syukur), ad-Du'au (Doa), dan al-Waqiyah (Yang Melindungi dari Kesesatan).


Bukankah jelas bahwa 7 ayat singkat Al-Fatihah yang begitu dihargai harus diselidiki secara mendalam? Janganlah menjalankan hidup Saudara dan terus buta huruf mengenai rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Al-Fatihah!!!



Untuk mulai menguasai secara mendalam arti Al-Fatihah dalam terang Isa Al-Masih, isilah nama dan email pada formulir di bawah ini!
READ MORE - ISA DAN AL-FATIHAH

Ketika Rosulallah SAW tidak menggauli istri-istrinya

Minggu, 06 Juni 2010

Beliau berkata: Aku memasuki mesjid, lalu aku melihat orang-orang memukulkan tanah dengan batu-batu kerikil sambil berkata: Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Hal itu terjadi sebelum para istri nabi diperintahkan memakai hijab. Umar berkata: Aku berkata: Aku harus mengetahui kejadian sebenarnya hari ini! Maka aku mendatangi Aisyah ra. dan bertanya: Wahai putri Abu Bakar, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Aisyah ra. menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putra Khathab! Nasihatilah putrimu sendiri! Maka setelah itu aku langsung menemui Hafshah binti Umar dan aku katakan kepadanya: Wahai Hafshah, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Demi Allah, sesungguhnya kamu tahu bahwa Rasulullah saw. tidak menyukaimu. Seandainya bukan karena aku, niscaya Rasulullah saw. sudah menceraikanmu. Maka menangislah Hafshah sekuat-kuatnya. Aku bertanya: Di manakah Rasulullah saw. sekarang berada? Ia menjawab: Di tempatnya di kamar atas. Aku segera masuk, namun ternyata di sana telah berada Rabah, pelayan Rasulullah saw. yang sedang duduk di ambang pintu kamar atas sambil menggantungkan kedua kakinya pada tangga kayu yang digunakan Rasulullah untuk naik-turun. Lalu aku berseru memanggil: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Kemudian Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah saw. lalu memandangku tanpa berkata apa-apa. Aku berkata lagi: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Sekali lagi ia hanya memandang ke arah kamar Rasulullah kemudian ke arahku tanpa berkata apa-apa. Akhirnya aku mengangkat suara dan berseru: Wahai Rabah, mintakan aku izin untuk menemui Rasulullah! Aku mengira Rasulullah menyangka aku datang demi kepentingan Hafshah. Demi Allah, kalau beliau menyuruhku untuk memukul lehernya maka segera akan aku laksanakan perintah beliau itu. Kemudian aku keraskan lagi suaraku, dan akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela. Umar berkata: Ketika aku pertama kali masuk, aku melihat kemarahan di wajah beliau. Lalu aku tanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, apakah yang menyusahkanmu dari urusan istri-istrimu? Jika engkau ceraikan mereka, maka sesungguhnya Allah dan seluruh malaikat-Nya akan tetap bersama engkau begitu juga Jibril, Mikail, aku dan Abu Bakar serta segenap orang-orang mukmin pun juga tetap bersamamu. Sambil mengucapkan kata-kata itu aku selalu memuji Allah dan berharap semoga Allah membenarkan ucapan yang aku lontarkan tadi. Kemudian turunlah ayat takhyir (memberikan pilihan) berikut ini: Jika Nabi saw. menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya (pula). Pada saat itu Aisyah ra. dan Hafshah telah bersekongkol terhadap istri-istri Nabi saw. yang lainnya. Aku katakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan mereka? Beliau menjawab: Tidak. Kemudian aku jelaskan kepada beliau, bahwa sewaktu aku memasuki mesjid, aku melihat kaum muslimin memukul-mukulkan batu kerikil ke tanah sambil berkata bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Apakah perlu aku turun untuk memberitahukan mereka bahwa sebenarnya engkau tidak menceraikan istri-istrimu. Beliau bersabda: Boleh, kalau memang kamu ingin. Aku masih tetap berbicara dengan beliau sampai akhirnya aku melihat beliau benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan beliau sudah dapat tersenyum dan tertawa. Dan Rasulullah saw. adalah orang yang paling indah gigi serinya. Kemudian Rasulullah turun dan aku pun ikut turun. Aku turun terlebih dahulu lalu aku pegang erat-erat batang pohon yang digunakan tangga tersebut dan Rasulullah pun turun seakan-akan beliau jalan di atas tanah dan tidak memegang apapun dengan tangannya. Aku berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda: Sesungguhnya sebulan itu ada yang dua puluh sembilan hari. Lalu aku berdiri di pintu mesjid sambil berseru dengan suara sekeras-kerasnya: Rasulullah saw. tidak menceraikan istri-istrinya. Kemudian turunlah ayat: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Dan akulah orang yang ingin mengetahui perkara itu. Maka Allah Taala lalu menurunkan ayat takhyir
READ MORE - Ketika Rosulallah SAW tidak menggauli istri-istrinya

Air Mata Rasulullah SAW

Sabtu, 05 Juni 2010

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: �Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim �alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin... Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

READ MORE - Air Mata Rasulullah SAW

Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah

Nabi Daud ’alihis-salaam merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan langsung oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat rajin mendekatkan diri kepada Allah. Beliau sangat rajin memohon kepada Allah agar dirinya dicintai Allah. Beliau sangat mengutamakan cinta Allah lebih daripada mengutamakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri dan air dingin yang bisa menghilangkan dahaga musafir dalam perjalanan terik di tengah padang pasir.  Inilah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai doa Nabi Daud tersebut:


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)
READ MORE - Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah

NABI SULAIMAN A.S.

Rabu, 02 Juni 2010

Nabi Sulaiman adalah salah seorang putera Nabi Daud. Sejak ia masih kanak-kanak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian di dalam mempertimbangkan dan mengambil sesuatu keputusan.


Nabi Sulaiman Seorang Juri

Sewaktu Daud, ayahnya menduduki tahta kerajaan Bani Isra'il ia selalu mendampinginnya dalam tiap-tiap sidang peradilan yang diadakan untuk menangani perkara-perkara perselisihan dan sengketa yang terjadi di dalam masyarakat. Ia memang sengaja dibawa oleh Daud, ayahnya menghadiri sidang-sidang peradilan serta menyekutuinya di dalam menangani urusan-urusan kerajaan untuk melatihnya serta menyiapkannya sebagai putera mahkota yang akan menggantikanya memimpin kerajaan, bila tiba saatnya ia harus memenuhi panggilan Ilahi meninggalkan dunia yang fana ini. Dan memang Sulaimanlah yang terpandai di antara sesama saudara yang bahkan lebih tua usia daripadanya.

Suatu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otaknya iaitu terjadi pada salah satu sidang peradilan yang ia turut menghadirinya. dalam persidangan itu dua orang datang mengadu meminta Nabi Daud mengadili perkara sengketa mereka, iaitu bahawa kebun tanaman salah seorang dari kedua lelaki itu telah dimasuki oleh kambing-kambing ternak kawannya di waktu malam yang mengakibatkan rusak binasanya perkarangannya yang sudah dirawatnya begitu lama sehingga mendekati masa menuainya. Kawan yang diadukan itu mengakui kebenaran pengaduan kawannya dan bahawa memang haiwan ternakannyalah yang merusak-binasakan kebun dan perkarangan kawannya itu.

Dalam perkara sengketa tersebut, Daud memutuskan bahawa sebagai ganti rugi yang dideritai oleh pemilik kebun akibat pengrusakan kambing-kambing peliharaan tetangganya, maka pemilik kambing-kambing itu harus menyerahkan binatang peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi yang disebabkan oleh kecuaiannya menjaga binatang ternakannya. Akan tetapi Sulaiman yang mendengar keputusan itu yang dijatuhkan oleh ayahnya itu yang dirasa kurang tepat berkata kepada si ayah: "Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan itu sepatut berbunyi sedemikian : Kepada pemilik perkarangan yang telah binasa tanamannya diserahkanlah haiwan ternak jirannya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya, sedang perkarangannya yang telah binasa itu diserahkan kepada tetangganya pemilik peternakan untuk dipugar dan dirawatnya sampai kembali kepada keadaan asalnya, kemudian masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau kerugian lebih daripada yang sepatutnya."

Kuputusan yang diusulkan oleh Sulaiman itu diterima baik oleh kedua orang yang menggugat dan digugat dan disambut oleh para orang yang menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian Sulaiman yang walaupun masih muda usianya telah menunjukkan kematangan berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan pendapat ayahnya.
Peristiwa ini merupakan permulaan dari sejarah hidup Nabi Sulaiman yang penuh dengan mukjizat kenabian dan kurnia Allah yang dilimpahkan kepadanya dan kepada ayahnya Nabi Daud.


Sulaiman Menduduki Tahta Kerajaan Ayahnya

Sejak masih berusia muda Sulaiman telah disiapkan oleh Daud untuk menggantikannya untuk menduduki tahta singgahsana kerajaan Bani Isra'il.
Abang Sulaiman yang bernama Absyalum tidak merelakan dirinya dilangkahi oleh adiknya .Ia beranggapan bahawa dialah yang sepatutnya menjadi putera mahkota dan bukan adiknya yang lebih lemah fizikalnya dan lebih muda usianya srta belum banyak mempunyai pengalaman hidup seperti dia. Kerananya ia menaruh dendam terhadap ayahnya yang menurut anggapannya tidak berlaku adil dan telah memperkosa haknya sebagai pewaris pertama dari tahta kerajaan Bani Isra'il.

Absyalum berketetapan hati akan memberotak terhadap ayahnya dan akan berjuang bermati-matian untuk merebut kekuasaan dari tangan ayahnya atau adiknya apa pun yang harus ia korbankan untuk mencapai tujuan itu. Dan sebagai persiapan bagi rancangan pemberontakannya itu, dari jauh-jauh ia berusaha mendekati rakyat, menunjukkan kasih sayang dan cintanya kepada mereka menolong menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi serta mempersatukan mereka di bawah pengaruh dan pimpinannya. Ia tidak jarang bagi memperluaskan pengaruhnya, berdiri didepan pintu istana mencegat orang-orang yang datang ingin menghadap raja dan ditanganinya sendiri masalah-masalah yang mereka minta penyelesaian.

Setelah merasa bahawa pengaruhnya sudah meluas di kalangan rakyat Bani Isra'il dan bahawa ia telah berhasil memikat hati sebahagian besar dari mereka, Absyalum menganggap bahawa saatnya telah tiba untuk melaksanakan rencana rampasan kuasa dan mengambil alih kekuasaan dari tangan ayahnya dengan paksa. Lalu ia menyebarkan mata-matanya ke seluruh pelosok negeri menghasut rakyat dan memberi tanda kepada penyokong-penyokong rencananya, bahawa bila mereka mendengar suara bunyi terompet, maka haruslah mereka segera berkumpul, mengerumuninya kemudian mengumumkan pengangkatannya sebagai raja Bani Isra'il menggantikan Daud ayahnya.

Syahdan pada suatu pagi hari di kala Daud duduk di serambi istana berbincang-bincang dengan para pembesar dan para penasihat pemerintahannya, terdengarlah suara bergemuruh rakyat bersorak-sorai meneriakkan pengangkatan Absyalum sebagai raja Bani Isra'il menggantikan Daud yang dituntut turun dari tahtanya. Keadaan kota menjadi kacau-bilau dilanda huru-hara keamanan tidak terkendalikan dan perkelahian terjadi di mana-mana antara orang yang pro dan yang kontra dengan kekuasaan Absyalum.

Nabi Daud merasa sedih melihat keributan dan kekacauan yang melanda negerinya, akibat perbuatan puterannya sendiri. Namun ia berusaha menguasai emosinya dan menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang dapat menambah parahnya keadaan. Ia mengambil keputusan untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak diinginkan, keluar meninggalkan istana dan lari bersama-sama pekerjanya menyeberang sungai Jordan menuju bukit Zaitun. Dan begitu Daud keluar meninggalkan kota Jerusalem, masuklah Absyalum diiringi oleh para pengikutnya ke kota dan segera menduduki istana kerajaan. Sementara Nabi Daud melakukan istikharah dan munajat kepada Tuhan di atas bukit Zaitun memohon taufiq dan pertolongan-Nya agar menyelamatkan kerajaan dan negaranya dari malapetaka dan keruntuhan akibat perbuatan puteranya yang durhaka itu.

Setelah mengadakan istikharah dan munajat yang tekun kepada Allah, akhirnya Daud mengambil keputusan untuk segera mengadakan kontra aksi terhadap puteranya dan dikirimkanlah sepasukan tentera dari para pengikutnya yang masih setia kepadanya ke Jerusalem untuk merebut kembali istana kerajaan Bani Isra'il dari tangan Absyalum. Beliau berpesan kepada komandan pasukannya yang akan menyerang dan menyerbu istana, agar bertindak bijaksana dan sedapat mungkin menghindari pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu, teristimewa mengenai Absyalum, puteranya, ia berpesan agar diselamatkan jiwanya dan ditangkapnya hidup-hidup. Akan tetapi takdir telah menentukan lain daripada apa yang si ayah inginkan bagi puteranya. Komandan yang berhasil menyerbu istana tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh Absyalum yang melawan dan enggan menyerahkan diri setelah ia terkurung dan terkepung.

Dengan terbunuhnya Absyalum kembalilah Daud menduduki tahtanya dan kembalilah ketenangan meliputi kota Jerusalem sebagaimana sediakala. Dan setelah menduduki tahta kerajaan Bani Isra'il selama empat puluh tahun wafatlah Nabi Daud dalam usia yang lanjut dan dinobatkanlah sebagai pewarisnya Sulaiman sebagaimana telah diwasiatkan oleh ayahnya.

Kekuasaan Sulaiman Atas Jin dan Makhluk Lain
Nabi Sulaiman yang telah berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra'il yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya makhluk-makhluk lain, iaitu Jin angin dan burung-burung yang kesemuanya berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan melaksanakan segala komandonya. Di samping itu Allah memberinya pula suatu kurnia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, perbuatan piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jin-Nya.

Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti apa yang ia perintahkan dan ucapkan.
Demikianlah maka tatkala Nabi Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: "Hai semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya tanpa ia sedar dan sengaja.

Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur kepada Allah atas kurnia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjud bahawa binatang pun mengerti bahawa nabi-nabi Allah tidak akan mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sedar.

Sulaiman dan Ratu Balqis
Setelah Nabi Sulaiman membangunkan Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yeman. Setibanya di San'a - ibu kota Yeman ,ia memanggil burung hud-hud sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang kering tandus itu. Ternyata bahawa burung hud-hud yang dipanggilnya itu tidak berada diantara kawasan burung yang selalu berada di tempat untuk melakukan tugas dan perintah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman marah dan mengancam akan mengajar burung Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia datang tanpa alasan dan uzur yang nyata.

Berkata burung Hud-hud yang hinggap didepan Sulaiman sambil menundukkan kepala ketakutan:: "Aku telah melakukan penerbangan pengintaian dan menemukan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui oleh paduka Tuan. Aku telah menemukan sebuah kerajaan yang besar dan mewah di negeri Saba yang dikuasai dan diperintah oleh seorang ratu. Aku melihat seorang ratu itu duduk di atas sebuah tahta yang megah bertaburkan permata yang berkilauan. Aku melihat ratu dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan Pencipta alam semesta yang telah mengurniakan mereka kenikmatan dan kebahagian hidup. Mereka tidak menyembah dan sujud kepada-Nya, tetapi kepada matahari. Mereka bersujud kepadanya dikala terbit dan terbenam. Mereka telah disesatkan oleh syaitan dari jalan yang lurus dan benar."

Berkata Sulaiman kepada Hud-hud: "Baiklah, kali ini aku ampuni dosamu kerana berita yang engkau bawakan ini yang aku anggap penting untuk diperhatikan dan untuk mengesahkan kebenaran beritamu itu, bawalah suratku ini ke Saba dan lemparkanlah ke dalam istana ratu yang engkau maksudkan itu, kemudian kembalilah secepat-cepatnya, sambil kami menanti perkembangan selanjutnya bagaimana jawapan ratu Saba atas suratku ini."
HUd-hud terbang kembali menuju Saba dan setibanya di atas istana kerajaan Saba dilemparkanlah surat Nabi Sulaiman tepat di depan ratu Balqis yang sedang duduk dengan megah di atas tahtanya. Ia terkejut melihat sepucuk surat jatuh dari udara tepat di depan wajahnya. Ia lalu mengangkat kepalanya melihat ke atas, ingin mengetahui dari manakah surat itu datang dan siapakah yang secara kurang hormat melemparkannya tepat di depannya. Kemudian diambillah surat itu oleh ratu, dibuka dan baca isinya yang berbunyi: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, surat ini adalah daripadaku, Sulaiman. Janganlah kamu bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri."

Setelah dibacanya berulang kali surat Nabi Sulaiman Ratu Balqis memanggil para pembesarnya dan para penasihat kerajaan berkumpul untuk memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat Nabi Sulaiman yang diterimanya itu.
Berkatlah para pembesar itu ketika diminta petimbangannya: "Wahai paduka tuan ratu, kami adalah putera-putera yang dibesarkan dan dididik untuk berperang dan bertempur dan bukan untuk menjadi ahli pemikir atau perancang yang patut memberi pertimbangan atau nasihat kepadamu. Kami menyerahkan kepadamu untuk mengambil keputusan yang akan membawa kebaikan bagi kerajaan dan kami akan tunduk dan melaksanakan segala perintah dan keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak akan gentar menghadapi segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatanmu dam keselamatan kerajaanmu."

Ratu Balqis menjawab: "Aku memperoleh kesan dari uraianmu bahwa kamu mengutamakan cara kekerasan dan kalau perlu kamu tidak akan gentar masuk medan perang melawan musuh yang akan menyerbu. Aku sangat berterima kasih atas kesetiaanmu kepada kerajaan dan kesediaanmu menyabung nyawa untuk menjaga keselamatanku dan keselamatan kerajaanku. Akan tetapi aku tidak sependirian dengan kamu sekalian. Menurut pertimbanganku, lebih bijaksana bila kami menempuh jalan damai dan menghindari cara kekerasan dan peperangan. Sebab bila kami menentang secara kekerasan dan sampai terjadi perang dan musuh kami berhasil menyerbu masuk kota-kota kami, maka nescaya akan berakibat kerusakan dan kehancuran yang sgt menyedihkan. Mereka akan menghancur binasakan segala bangunan, memperhambakan rakyat dan merampas segala harta milik dan peninggalan nenek moyang kami. Hal yang demikian itu adalah merupakan akibat yang wajar dari tiap peperangan yang dialami oleh sejarah manusia dari masa ke semasa. Maka menghadapi surat Sulaiman yang mengandung ancaman itu, aku akan cuba melunakkan hatinya dengan mengirimkan sebuah hadiah kerajaan yang akan terdiri dari barang-barang yang berharga dan bermutu tinggi yang dapat mempesonakan hatinya dan menyilaukan matanya dan aku akan melihat bagaimana ia memberi tanggapan dan reaksi terhadap hadiahku itu dan bagaimana ia menerima utusanku di istananya.

Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur hadiah kerajaan yang akan dikirim kepada Sulaiman dan memilih orang-orang yang akan menjadi utusan kerajaan membawa hadiah, tibalah hinggap di depan Nabi Sulaiman burung pengintai Hud-hud memberitakan kepadanya rancangan Balqis untuk mengirim utusan membawa hadiah baginya sebagai jawaban atas surat beliau kepadanya.
Setelah mendengar berita yang dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi Sulaiman mengatur rencana penerimaan utusan Ratu Balqis dan memerintahkan kepada pasukan Jinnya agar menyediakan dan membangunkan sebuah bangunan yang megah yang tiada taranya ya akan menyilaukan mata perutusan Balqis bila mereka tiba.

Tatkala perutusan Ratu Balqis datang, diterimalah mereka dengan ramah tamah oleh Sulaiman dan setelah mendengar uraian mereka tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka dengan hadiah kerajaan yang dibawanya, berkatalah Nabi Sulaiman: "Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahawa Allah telah memberiku rezeki dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengurniaiku dengan kurnia dan nikmat yang tidak diberikannya kepada seseorang drp makhluk-Nya. Di samping itu aku telah diutuskan sebagai nabi dan rasul-Nya dan dianugerahi kerajaan yang luas yang kekuasaanku tidak sahaja berlaku atas manusia tetapi mencakup juga jenis makhluk Jin dan binatang-binatang. Maka bagaimana aku akan dapat dibujuk dengan harta benda dan hadiah serupa ini? Aku tidak dapat dilalaikan dari kewajiban dakwah kenabianku oleh harta benda dan emas walaupun sepenuh bumi ini. Kamu telah disilaukan oleh benda dan kemegahan duniawi, sehingga kamu memandang besar hadiah yang kamu bawakan ini dan mengira bahawa akan tersilaulah mata kami dengan hadiah Ratumu. Pulanglah kamu kembali dan sampaikanlah kepadanya bahawa kami akan mengirimkan bala tentera yang sangat kuat yang tidak akan terkalahkan ke negeri Saba dan akan mengeluarkan ratumu dan pengikut-pengikutnya dari negerinya sebagai- orang-orang yang hina-dina yang kehilangan kerajaan dan kebesarannya, jika ia tidak segera memenuhi tuntutanku dan datang berserah diri kepadaku."

Perutusan Balqis kembali melaporkan kepada Ratunya apa yang mereka alami dan apa yang telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman. Balqis berfikir, jalan yang terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya ialah menyerah saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap dia di istananya.
Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahawa ia memiliki kekuasaan ghaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa yang dia telah ancamkan melalui rombongan perutusan bukanlah ancaman yang kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya datang berserah diri.

Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: "Aku sanggup membawa tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari tempat dudukimu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai.
Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah nyeletuk berkata: "Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu."
Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia: Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."

Menyonsong kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman memerintahkan orang-orangnya agar mengubah sedikit bentuk dan warna tahta Ratu itu yang sudah berada di depannya kemudian setelah Ratu itu tiba berserta pengiring-pengiringnya, bertanyalah Nabi Sulaiman seraya menundingkan kepada tahtanya: "Serupa inikah tahtamu?" Balqis menjawab: "Seakan-akan ini adalah tahtaku sendiri," seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin bahawa tahtanya berada di sini padahal ia yakin bahawa tahta itu berada di istana tatkala ia bertolak meninggalkan Saba.

Selagi Balgis berada dalam keadaan kacau fikiran, kehairanan melihat tahta kerajaannya sudah berpindah ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sengaja dibangun untuk penerimaannya. Lantai dan dinding-dindingnya terbuat dari kaca putih. Balqis segera menyingkapkan pakaiannya ke atas betisnya ketika berada dalam ruangan itu, mengira bahawa ia berada di atas sebuah kolam air yang dapat membasahi tubuh dan pakaiannya.
Berkata Nabi Sulaiman kepadanya: "Engkau tidak usah menyingkap pakaianmu. Engkau tidak berada di atas kolam air. Apa yang engkau lihat itu adalah kaca-kaca putih yang menjadi lantai dan dinding ruangan ini."

"Oh,Tuhanku," Balqis berkata menyedari kelemahan dirinya terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dipertunjukkan oleh Nabi Sulaiman, "aku telah lama tersesat berpaling daripada-Mu, melalaikan nikmat dan kurnia-Mu, merugikan dan menzalimi diriku sendiri sehingga terjatuh dari cahaya dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku berserah diri kepada Sulaiman Nabi-Mu dengan ikhlas dan keyakinan penuh. Kasihanilah diriku wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

Demikianlah kisah Nabi Sulaiman dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut sementara ahli tafsir dan ahli sejarah nabi-nabi, bahawa Nabi Sulaiman pada akhirnya kahwin dengan Balqis dan dari perkahwinannya itu lahirlah seorang putera.
Menurut pengakuan maharaja Ethiopia Abessinia, mereka adalah keturunan Nabi Sulaiman dari putera hasil perkahwinannya dengan Balqis itu. Wallahu alam bisshawab.

Wafatnya Nabi Sulaiman
Al-Quran mengisahkan bahawa tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kematian Sulaiman kecuali anai-anai yang memakan tongkatnya yang ia sandar kepadanya ketika Tuhan mengambil rohnya. Para Jin yang sedang mengerjakan bangunan atas perintahnya tidak mengetahui bahawa Nabi Sulaiman telah mati kecuali setelah mereka melihat Nabi Sulaiman tersungkur jatuh di atas lantai, akibat jatuhnya tongkat sandarannya yang dimakan oleh anai-anai. Sekiranya para Jin sudah mengetahui sebelumnya, pasti mereka tidak akan tetap meneruskan pekerjaan yang mereka anggap sebagai seksaan yang menghinakan.

Berbagai cerita yang dikaitkan orang pada ayat yang mengisahkan matinya Nabi Sulaiman, namun kerana cerita-cerita itu tidak ditunjang dikuatkan oleh sebuah hadis sahih yang muktamad, maka sebaiknya kami berpegang saja dengan apa yang dikisahkan oleh Al-Quran dan selanjutnya Allahlah yang lebih Mengetahui dan kepada-Nya kami berserah diri.


Kisah Nabi Sulaiman dapat dibaca di dalam Al-Quran, surah An-Naml ayat 15 sehingga ayat 44
READ MORE - NABI SULAIMAN A.S.

 
 
 

Berikan comment anda..