Abdoel Halim

Kamis, 04 Oktober 2012

takkan hidup tanpa ilmu...

Abdoel Halim
Perdana Menteri Indonesia ke-4
Masa jabatan
16 Januari 1950 – 5 September 1950
Presiden Soekarno
Didahului oleh Soesanto Tirtoprodjo
Digantikan oleh Muhammad Natsir
Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-6
Masa jabatan
6 September 1950 – 27 April 1951
Presiden Soekarno
Didahului oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Digantikan oleh Sukiman Wirjosandjojo
Informasi pribadi
Lahir 27 Desember 1911
Bendera Belanda Bukittinggi, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal 4 Juli 1987 (umur 75)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik Non Partai
Profesi Politikus, Dokter
Agama Islam

Abdul Halim (ejaan lama: Abdoel Halim) (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 27 Desember 1911 – meninggal di Jakarta, 4 Juli 1987 pada umur 75 tahun) adalah Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Halim (1949) yang memerintah ketika Republik Indonesia menjadi bagian Republik Indonesia Serikat.

Latar belakang dan pendidikan

Abdul Halim lahir dari pasangan Achmad Sutan Iyus dan Darama asal Banuhampu, Agam, Sumatera Barat. Pada usia 7 tahun, Abdullah, sepupu ibunya yang pada waktu itu menjadi salah satu pemimpin Bataafsche Petroleum Maatscappij (BPM - sekarang dikenal sebagai Pertamina) membawanya ke Jakarta. Disini ia menerima pendidikan sejak di HIS, MULO, AMS B, hingga lulus dari GHS (Geneeskundige Hooge School atau Sekolah Kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Masa perjuangan 1945-1949

Sejak Proklamasi 1945 beliau duduk sebagai Wakil Ketua BP-KNIP bersama Assaat yang menjabat Ketua BP-KNIP. Badan Pekerja (BP) yang beranggotakan 28 orang, adalah badan pelaksana yang melakukan pekerjaan sehari-hari dari Komite Nasional Indonesia Pusat yang beranggotakan 137 orang.
Pada tahun 1948, Halim ikut membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat. Pada masa revolusi fisik (1945-1949) beliau tidak pernah melakukan praktek dokter. Selain sebagai politisi, Halim juga mempunyai hobi memelihara mobil kesayangannya. Sehingga oleh kawan-kawannya, ia dijuluki sebagai "dokter mobil" alias "montir mobil".

Masa RI dan setelah RIS 1950

Pada masa Republik Indonesia Serikat, beliau dipercaya sebagai Perdana Menteri di mana Mr. Assaat sebagai acting Presiden. Kemudian setelah RIS beliau duduk dalam Kabinat Natsir. Setelah melepaskan jabatan sebagai Menteri Pertahanan (ad interim) di Kabinet Natsir, Abdul Halim kembali menekuni bidangnya sebagai dokter dan menjabat direktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (1951-1961). Abdul Halim terakhir menjabat sebagai Inspektur Jenderal RSCM dan meninggal di Jakarta.
Jauh dari kegiatan politik, Halim yang memiliki hobi bermain sepak bola, terlibat dalam pembentukan Voetbalbond Indonesische Jakarta (sekarang Persija) pada tahun 1927. Di klub tersebut ia menjadi ketua selama beberapa tahun. Dari 1951-1955 ia menjabat sebagai Vice Chairman dan kemudian ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Halim diangkat sebagai ketua Ikada Foundation yang membangun Stadion Ikada, Jakarta. Pada tahun 1952 ia memimpin kontingen Indonesia pertama dalam Olimpiade Helsinki.[1]


0 komentar:

 
 
 

Berikan comment anda..